Tanggal 12 Oktober 2005 silam, seorang pemuda 36 tahun bernama Markus Margiyanto datang menemui KH Abdullah Wasi’an dirumahnya, di Sidoarjo, Jawa timur. Kepada kristolog kondang itu, Markus menyatakan niatnya untuk pindah agama dari Kristen ke Islam. Alasannya setelah membaca buku KH Abdullah Wasi’an yang berjudul Benteng Islam terbitan Pustaka Dai, ia menjadi tertarik dengan Islam.

Dengan berbaik sangka, mendengar paparan Markus yang sangat memukau itu, KH Abdullah Wasi’an pun menuntun pensyahadatan Markus tepat pukul 11.00 WIB. Syahadat itupun ditandai dengan surat keterangan sementara yang ditandatangai oleh KH Abdullah Wasi’an dan beberapa saksi. Usai pensyahadatan, Pendeta Markus pulang dengan disangoni uang tunai. Nama Islamnya pun menjadi Makhrus.

Namun, setelah majalah Modus melakukan pengecekan secara mendetail pada bulan November 2005 lalu, ditemukan sejumlah kebohongan pada Markus Margiyanto. Diantaranya, alamat KTP-nya di Jl Pogot Lama II/91 RW 06/05 Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya ternyata tidak benar. Tetangga depan rumah Sutarso yang tinggal di sana sejak tahun 1980 Darmo, mengatakan bahwa yang berprofesi sebagai pendeta itu adalah ayahnya Markus.

Setelah ditelusuri, ternyata markus bersama keluarganya yang terdiri dari anak, istri, ibu dan adiknya tinggal di Tanah merah II/22, Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya. Rumah yang sempat difungsikan sebagai gereja ini asalnya adalah milik Pendeta Petrus Salindeho, yang pernah bermasalah dengan umat Islam hingga divonis hukuman penjara.

Jauh sebelum melancarkan aksinya di Surabaya. Markus pura-pura masuk Islam dan nyantri di PIQ Singosari Malang, dibawah asuhan KH Bashori Alwi. Karena sudah dipercaya, dia dijadikan menantu oleh KH Ahmad Rifai, pengasuh sebuah pesantren di Singosari, Malang. Namun setelah mempunyai dua anak Markus memboyong anak-anak dan istrinya ke Jakarta lalu memurtadkan semuanya.

Sudah banyak yang menjadi korban penipuan Markus Margiyanto. Penipuan bermodus pura-pura masuk Islam ini, sungguh berbahaya. Jika setiap saat bersyahadat di hadapan tokoh Islam, untuk mendapat simpati dalam bentuk materi, maka jelas bahwa ‘penipuan berkedok masuk islam’ adalah profesi Markus. (dikutip dari Majalah Sabili No 7 Th XV, 18 Oktober 2007/6 Syawal 1428. Halaman 52)

About these ads