Pak Darman Dan Bengkel Sepeda

Tak ada waktu beristirahat lama-lama bagi seorang Pak Darman (61). Tanpa kenal lelah, jari-jari tangannya yang mulai digerogoti usia begitu cekatan menyetel jari-jari roda sepeda motor konsumennya.

“Butuh kesabaran untuk menyetelnya agar hasilnya memuaskan,” aku Pak Darman yang mengenakan singglet putih dengan celana dasar panjang warna cokelat, disela-sela kesibukkannya,kemarin. Seperti tak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan, ia terus melanjutkan pekerjaannya. Sekitar 45 menit, Pak Darman menyelesaikan satu pekerjaan hari itu.

“Baru satu pekerjaan yang selesai,” aku kakek yang telah dikaruniai dua cucu itu. Setelah menyelesaikan pesanan konsumennya, Pak Darman kembali mengutak-atik sepeda lain yang menunggu sentuhan jari-jari tuanya. Setelah membuka peralatan montir, Pak Darman kembali duduk di bangku kecilnya. Ia mulai membongkar dan memperbaiki sepeda yang akan diambil pemiliknya.

Setelah matahari mulai merangkak naik, Pak Darman belum juga istirahat. Cukup sulit menemukan Pak Darman dalam keadaan diam untuk beristirahat sebentar. Ada saja yang kurang dan mesti diselesaikan. Menurutnya, hampir seluruh usianya dihabiskan untuk mengelola bengkel sepeda miliknya di sebelah Puskesmas Alai, Padang. Sejak 40 tahun yang lalu ia telah merintis bengkel sepeda yang belakangan mulai tidak diminati kalangan muda.

Membuka bengkel sepeda memang mejadi hobi kakek yang memiliki enam orang anak tersebut. “Sejak kelas 6 SD (sekolah dasar-red) saya mulai membuka bengkel tambal ban di dekat rumah,” akunya. Pengalaman pahit ditinggal orang tua saat duduk di bangku kelas 4 SD, membuatnya mesti bekerja keras untuk membantu ekonomi keluarga. Hasil yang diperoleh dari bengkel tambal ban bisa membiayai sekolahnya hingga menamatkan pendidikan STM.

Pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan pun pernah dilakoninya. Tahun 1970 ia tercatat sebagai pegawai di Kantor Balaikota Padang. Namun, hanya bertahan satu tahun. “Hanya bertahan satu tahun karena jadi pegawai waktu itu kecil,” aku kakek yang memiliki 11 orang saudara ini. Di tahun 70-an, profesi sebagai petani lebih menjanjikan ketimbang pegawai pemerintah. Dalam seminggu, akunya, bisa berpendapatan satu bulan gaji pegawai.

Meskipun tercatat sebagai pegawai pemerintah, Pak Darman tetap tidak meninggalkan bengkel sepedanya. Bahkan lebih memilih bengkel sepeda dari pada menjadi pegawai. Ketekunan Pak Darman membawa keberhasilan sendiri buat keluarganya. Kakek yang memiliki enam orang anak itu berhasil menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi. Bahkan yang paling tua telah menyelesaikan gelar masternya (S2) di Australia.

Kesuksesan sebagai seorang ayah yang mampu menguliahkan semua anaknya diraihnya dengan susah payah. Kalau bicara sulit, orang tua ini, sedikit tertawa kecil mengenang kisah pahitnya. “Mulainya dari nol cuma tukang tambal ban,” akunya dengan sedikit tersenyum. Menurutnya, hanya keyakinan yang membawanya terus bertahan dan hampir menghabiskan seluruh umurnya untuk bengkel sepeda.

Saat ini, usaha Pak Darman tinggal menikmati hasil. Bengkel sepeda miliknya selalu diramaikan pelanggan. Siang itu, sekitar 12 sepeda mesti ngantri menunggu giliran untuk diperbaiki. Ada yang sadelnya patah, ganti ban, hingga berbagai perbaikan lainnya yang bersifat sedang maupun rusak parah. “Kalau dikerjakan, sore nanti selesai semuanya.”

Saat ini memang tak banyak orang yang membuka bengkel sepeda. Rata-rata orang lebih memilih membuka bengkel motor. Memang dibanding membuka bengkel sepeda, orang lebih memilih membuka bengkel sepeda motor karena lebih menguntungkan.

Beberapa tahun belakangan, bengkel sepeda serupa juga pernah ada di sekitar bengkel Pak Darman. Namun tidak ada yang bertahan lama. “Paling lama hanya satu tahun,” ungkap abang kredit, teman seperjuangan Pak Darman yang siang itu singgah untuk membetulkan kaca spion motornya.

H. Usman, yang berusaha wartel di sebelah bengkel Pak Darman mengaku, kagum dengan kegigihan Pak Darman. “Tak ada waktu istirahat buat dia, selain itu kerjaannya pun tidak pernah terputus,” akunya. Menurutnya, berkat keyakinan dan kegigihan Pak Darman, lima dari enam anaknya telah menyelesaikan kuliah. Hanya yang paling kecil sekarang tengah menjalani ujian nasional.

Pak Darman mengaku belum sempat memikirkan tentang pensiun. Bengkel sepedanya yang terbilang cukup besar itu, terus menggeliat melayani konsumen. Bahkan untuk menyesuaikan dengan situasi, bengkelnya juga menjual perlengkapan dan aksesoris sepeda serta oli pelumas. Ia mengaku, pernah diminta pensiun oleh anak-anaknya. “Sulit berhenti karena selalu merasa masih kuat.” (***)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s