Pembalakan Ancam Satwa Liar TNKS

Penjarahan kayu log di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) kian hGse_multipart55050ari semakin mengancam keseimbangan ekositem kawasan tersebut. Dalam bulan ini pihak terkait berhasil mengamankan ratusan kubik kayu hasil penebangan liar di kawasan TNKS.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat bidang TNKS mengkhawatirkan, maraknya penebangan liar dan perambahan hutan di kawasan tersebut kian mempersempit habitat satwa. “Sudah pasti mengancam keberadaan satwa liar yang dilindungi karena habitatnya semakin berkurang,” aku Kabid TNKS BKSDA Sumbar Ir Tata Jatirasa Gandaresmara saat dihubungi POSMETRO.
Menurut Tata, tim terpadu yang dibentuk untuk meminimalisir persoalan perburuan liar dan pembalakan liar kalah jumlah personil dibanding pelaku penjarahan. Akhir-akhir ini, akunya, pihaknya terus memperkuat jajarannya untuk mengantisipasi persoalan penjarahan yang terus terjadi di kawasan TNKS.
Menurut data tahun 2008, pihak TNKS telah melakukan pembentukan tim investigasi untuk memantau kasus satwa liar yang ke luar dari habitatnya. Kasus mengamuknya Harimau Sumatra di daerah Koto Tarusan, Pessel, Januari lalu, dinilainya, bentuk dari semakin tertekannya habitat Harimau Sumatra di kawasan TNKS.
“Tekanan terhadap habitatnya mendorong satwa liar untuk mencari habitat baru. Risikonya masyarakat sekitar yang terkena dampaknya,” ujar Tata. Menurutnya, penanganan maraknya penebangan liar di kawasan TNKS perlu mendapat perhatian semua pihak.
Tanpa dukungan semua pihak, keterbatasan jumlah personil dan besarnya kawasan TNKS menyulitkan tim terpadu untuk menghadang pelaku-pelaku pembalakan liar. Berdasarkan informasi Balai Taman Nasional Kerinci Seblat tahun 2006, manusia menjadi pemangsa utama hingga kondisi satwa liar kian terancam. Sumatran Tiger (Harimau Sumatra) menjadi satwa yang kelangsungannya sangat terancam akibat ulah perburuan liar dan rusaknya habitat kucing besar tersebut.
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) juga mengalami persoalan yang lebih parah. Sekitar tahun 70-an, sekitar 300 ekor Badak Sumatra masih ditemukan di kawasan TNKS. Namun, pada awal 1990-an jumlah Badak Sumatra menurun drastis dan tercatat hanya tinggal beberapa ekor saja. BTNKS menilai, buuth waktu beberapa abad untuk mengembalikan populasi Badak Sumatra seperti tahun 70-an.
Beberapa satwa liar lainnya seperti: Gajah Sumatra, Macan Dahan, Burung Enggang, Paok Schneideri, Sempidan sumatra, terus mengalami penurunan populasi. Gajah Sumatra yang dulunya dapat ditemui di seluruh kawasan TNKS, akhir-akhir ini semakin terpojok dan hanya dijumpai di sebelah selatan TNKS di antara Gunung Sumbing dan Sungai Batang Merangin (Jambi) dan sekitar Sungai Seblat dan Sungai Ipuh (Bengkulu). Penurunan populasi satwa tersebut diakibatkan perburuan liar di kawasan tersebut.
Memburuknya kondisi TNKS, menurut Tata, butuh penanganan yang sinergis antara pemerintah dan masyarakat. “Kita terus mengembangkan pemberdayaan masyarakat untuk turut serta mengamankan TNKS dari penjarahan kayu dan perburuan liar,” akunya. Ia berharap, patroli rutin yang dilakukan tim terpadu dapat memperbaiki ekosistem TNKS dari penjarahan hutan. (erinaldi)

Status Satwa Liar di Kawasan TNKS Tahun 2006 Berdasarkan Informasi Balai Taman Nasional Kerinci Seblat.

1. Harimau Sumatra (panthera tigris sumatrae) jumlahnya belum terdata secara pasti. Status (IUCN) Sangat terancam.
2. Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis) Tahun 1970-an tercatat 300 ekor, pada awal 1990-an tinggal beberapa ekor saja. Status (IUCN) sangat terancam.
3. Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) tidak terdata jumlahnya, populasinya semakin menyempit dan hanya ditemukan di kawasan TNKS Prov Jambi dan Bengkulu.
4. Macan Dahan (Neofelis nebulosa/ Clouded Leopard) sangat jarang terlihat, status (IUCN) rentan.
5. Burung Enggang (Bucerotidae) terdapat 9 jenis Enggang di TNKS, status (IUCN) hampir terancam.
6. Paok Schneideri. Burung paok dan bertubuh gemuk, berekor pendek, ditemukan kembali tahun 1980-an. Status (IUCN) genting.
7. Abang Pipi, Sampidan Sumatra (laphura inornata) Burung langka asli TNKS ini ditemukan kembali pertengahan tahun 1980-an di Gunung Kerinci. Status (IUCN) genting.
8. Tohtor Sunda (Carpococyx Viridis). Burung spesies Sumatra yang nyaris dinyatakan punah kembali terlihat pada 10 Mei 2006 melintas kemera pemantau. Burung ini ditemukan sekitar tahun 1916-an. Sumber: Bidang TNKS BKSDA Sumatera Barat

One thought on “Pembalakan Ancam Satwa Liar TNKS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s