Satu Perkara, Duo Penyidikan

Sementara Kejaksaan hampir kelar menyidik, KPK baru mengayun langkah awal menetapkan tersangka. Kurang koordinasi?

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendy membantah kasus korupsi Kedutaan Besar RI untuk Singapura mengendap terlalu lama di Gedung Bundar Kejaksaan Agung tanpa adanya tindaklanjut. “Sudah mau finishing kok, kita tinggal gelar perkara,” ujarnya di Kejaksaan Agung, Senin (5/5).

Marwan mengatakan, penyidikan kasus yang dahulu menjadi bidikan Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) itu sudah hampir rampung untuk dilanjutkan ke tahap penuntutan. Keganjilan terjadi ketika tiba-tiba Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga melakukan penyidikan pada kasus serupa tanpa sepengetahuan Kejaksaan dan begitu pula sebaliknya.

Perkara warisan almarhum Timtas Tipikor itu, lanjut Marwan, sudah diambilalih oleh Jampidsus sejak tim itu dibubarkan pada 2007 lalu. “Penyidikan tetap jalan terus, Januari 2008 tersangka ditetapkan,” tambahnya.

Dalam kasus yang ditangani oleh Kejaksaan dan KPK itu memang ada kemiripan. Setidaknya ada kesamaan tersangka. Tapi, masa sih dalam perkara yang sama ada dua proses penyidikan dari dua lembaga berbeda? Marwan mengatakan, hal itu tidak mungkin terjadi. Ia menduga ada ketidakberesan pada pengiriman pemberitahuan dari Kejaksaan tentang penyidikan perkara tersebut ke KPK. “Bisa saja (pemberitahuan dari Kejagung, red) tidak sampai atau mungkin hilang di jalan. Biasa, itu sering terjadi,” bebernya.

Marwan melanjutkan, jika KPK sudah mengetahui Kejaksaan sedang menyidik perkara korupsi, KPK biasanya akan melakukan supervisi. Untuk itulah Marwan mengharapkan ada gelar perkara untuk mempertemukan hasil penyidikan masing-masing lembaga dari perkara yang dinilai satu perkara.

Untuk meredam munculnya kesan penyidikan ganda, Marwan mengaku sudah diundang oleh Wakil Ketua KPK bidang Penindakan Chandra Hamzah untuk melakukan gelar perkara di KPK. Rencananya dalam pekan ini Marwan akan menyambangi kantor KPK untuk melakukan koordinasi. Jampidsus kini tengah menyiapkan bahan-bahan untuk gelar perkara di KPK itu.

“Mereka (KPK, red) kan sibuk, tenaga terbatas. Mungkin minggu ini. Mereka kan sekarang sedang tangani BI dan sebagainya. Artinya penyidikan di sini tetap jalan, nanti mungkin digabung atau ada tambahan bukti dari KPK,” ujarnya. Yang jelas, Marwan mengisyaratkan Kejaksaan akan tetap menuntaskan penyidikan perkara ini.

Terpisah, Ketua KPK Antasari Azhar mengaku tidak tahu kalau perkara dugaan korupsi KBRI Singapura yang ditangani lembaganya itu ternyata kini sudah hampir selesai disidik oleh Kejaksaan. “Saya cek administrasinya tidak ada, kami dapat laporan yah kami tindak lanjuti,” ujar mantan Direktur Penuntutan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum itu.

Dia mengatakan, lembaga penegak hukum yang melakukan penyidikan perkara korupsi lazimnya memberitahukan surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) kepada KPK. Dari SPDP itu, KPK akan melakukan fungsi koordinasi dan supervisi. “Kita lihat sejauh mana, baru kalau memang perlu, diambil alih,” ujarnya. Namun lantaran tidak ada pemberitahuan atau SPDP dari lembaga penyidik lainnya, KPK akhirnya menangani kasus tersebut.

Soal rencana koordinasi Jampidsus dengan KPK juga diakui Wakil Ketua KPK lainnya Bibit S. Riyanto. Namun Bibit tidak buru-buru menyatakan kasus yang ditangani Kejaksaan sama dengan yang baru disidik KPK. Adanya persamaan nama tersangka, ujarnya, “Bisa jadi obyek yang diperkarakan beda.”

Marwan menegaskan, kejadian semacam ini biasa terjadi. Menurutnya, Kejaksaan tidak pernah ada persoalan dengan KPK. Sebab, untuk kasus korupsi, KPK memang berwenang melakukan supervisi. Toh jika memang kasusnya sama dan obyeknya sama, dua lembaga bisa saling mencocokkan alat bukti. Andaikan penyidikan di Kejaksaan sudah selesai lebih dulu, KPK sebagai trigger mechanism akan mendorong untuk lebih cepat. Sebaliknya, pungkas Marwan, “Kalau kita lambat, nggak selesai-selesai, KPK bisa mengambil alih.”

(NNC/Mon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s