Sportifitas Bukan Milik Pemain Semata

Semifinal sepak bola padang lawan payakumbuh (25)Banyak hal menarik saat menyimak jalannya pertandingan sepakbola secara live (langsung). Dalam bulan ini, meskipun ‘tak semeriah helatan Liga Indonesia, Pengurus Daerah Persatuan Sepak Bola Indonesia Sumatera Barat menggelar liga remaja. Yamaha Cup sukses melahirkan jawara baru. Sekolah Sepak Bola Tunas Harapan tampil sebagai juara. Di liga Medco (U-15), diluar dugaan Pengcab PSSI Payakumbuah berhasil membalikkan fakta dengan mengkandaskan perlawanan anak-anak Tanah Datar.

Event sehari penuh Yamaha Cup (U-13) memberikan warna beragam bagi yang hadir di stadion H Agus Salim Padang. Hal menarik yang selalu diingatkan panitia pelaksana sebelumnya jalannya pertandingan yakni: “Bermain sportif karena kita ini anak-anak SSB, kalian tahu apa artinya SSB? Jadi main yang sportif karena kita SSB bukan klub.”

Di lapangan, begitu kick off dimulai, anak-anak terlihat begitu semangat untuk menjebol gawang lawannya. Mereka bermain cukup sportif. Begitu terjadi pelanggaran-pelanggaran yang menyita emosi, sikap sportifitas ditunjukkan dengan saling bersalaman atas tackling keras yang terjadi di lapangan.Namun, sikap sportifitas yang ditunjukkan anak-anak di lapangan tidak menular hingga penonton atau pendukung kedua SSB yang menyaksikan jalannya pertandingan dari luar lapangan. Mungkin mereka–para pendukung kedua SSB– tidak sempat diingatkan panitia sebelum pertandingan dimulai untuk bersikap sportif. Lucu juga [mungkin] bila para pendukung kedua SSB diingatkan panitia untuk berlaku sportif karena mereka hanya sekedar pendukung pertandingan.

Bila diamati secara keseluruhan, sebuah pertandingan akan hambar jika tidak melibatkan para pendukung. Secara keseluruhan, pemain, pelatih, offisial, wasit, plus penonton menjadi kerangka pada setiap pertandingan. Pemain dan wasit merupakan unsur utama pada setiap even olah raga. Yang lainnya, mungkin menjadi unsur pendukung yang sangat menentukan suksesnya even olah raga tertentu. Kehilangan salah satu unsur pendukung saja, even yang digelar akan terasa hambar.

Pemain, wasit dan unsur pendukung lainnya menjadi patokan suksesnya sebuah pertandingan, tentunya unsur-unsur yang terlibat tersebut menjadi sorotan pihak penyelenggara. Pemain dituntut untuk mengembangkan sikap sportifitas di lapangan. Mestinya, tuntutan untuk bersikap sportif juga ditularkan pada unsur-unsur pendukung lainnya yang secara tidak langsung terlibat dalam kesuksesan pertandingan.

Dalam helatan liga remaja yang digelar di GOR H Agus Salim beberapa waktu lalu mungkin bisa menjadi pelajaran bagi pencinta olah raga. Penonton walaupun hanya sebagai faktor pendukung, tapi menjadi kunci sukses dalam setiap pertandingan. Dalam even liga remaja selama tiga hari kemarin (Yamaha Cup dan Liga Medco), penonton ‘lebih sangar’ ketimbang pemain yang tengah memacu stamina di lapangan. Umpatan, sindiran, hujatan, dan teriakan, yang memacu emosi pemain di lapangan, menjadi hal biasa yang terjadi dalam pertandingan sepak bola.

Kalau diungkap secara vulgar, tentunya bisa memancing emosi yang mendengarnya. Bayangkan kalau Anda yang memimpin pertandingan. Jika makian dan hujatan dialamatkan pada Anda, dijamin emosi Anda pun akan meledak-ledak. Tentunya, sikap tidak sportif yang ditunjukkan para pendukung berdampak negatif pada kepemimpinan wasit di lapangan. Kenapa tidak. Hujatan dan makian bertubi-tubi dilancarkan pada mereka. Nampaknya, butuh mental baja untuk menjadi wasit di Tanah Air ketimbang memimpin pertandingan di liga-liga terkemuka dunia.

Mungkin ada baiknya untuk melirik Liga Spanyol ataupun liga-liga terbesar eropa lainnya sebagai perbandingan. Penonton benar-benar menjadi faktor pendukung utama sehingga memberikan tontonan yang menarik bagi semua orang. Kalau hanya sekedar menampilkan kerusuhan, hujatan, makian, tentunya rugi juga stasiun terlevisi untuk menayangkannya. Paling tidak, sportifitas pemain ditularkan kesegenap pendukung yang berada di luar lapangan. Tidak hanya pemain, semua unsur pendukung pun bersikap sportif.

Di Tanah Air, jika diamati, penonton malah menjadi mesin pemanas yang menyulut pertengkaran pemain. Sikap sportifitas masih sebatas pada pemain. Itu pun belum sepenuhnya bisa dilaksanakan pemain di lapangan. Buruknya, sikap fanatisme buta yang diusung para pendukung malah menjadi penyulut pertengkaran antarpemain. Bahkan, offisial klub pun, terkadang lupa diri dan malah mengembangkan sikap tidak sportif pada pemainnya. Mereka beranggapan, kepemimpinan wasit dijadikan dasar untuk mengabaikan sikap sportifitas.

Bagaimanapun, supporter merupakan asset besar untuk mengembangkan sepakbola. Dukungan mereka menjadi semangat yang berlebih bagi pemain. Hanya saja, dengan sikap yang kurang mendukung, tentunya akan berdampak buruk pada para pemain dan kesuksesan helatan olah raga itu sendiri. Ke depan, perlu dikembangkan sikap bahwa sportifitas bukan hanya milik pemain semata tapi harus ditularkan pada semua aspek pendukung kegiatan olah raga seperti wasit, tim offisial, dan tentunya supporter. (erinaldi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s