Ratusan Buruh Asia Biscuit Ajukan Gugatan

Setelah terkatung-katung selama lima bulan, ratusan karyawan PT Asia Megah Biscuit akhirnya memilih jalur hukum untuk memperjuangkan nasib mereka. Senin kemarin (12/5) sebanyak 178 mantan karyawan perusahaan roti tersebut yang didampingi kuasa hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum Padang mendaftarkan gugatan sengketa pemutusan hubungan kerja ke Peradilan Hubungan Industrial Pada Pengadilan Negeri Padang.

Gugatan 178 karyawan Asia Biscuit tersebut diterima Panitera Muda Zulkarnaini SH dan dua orang staf PHI di jalan Rasuna Said. Gugatan tersebut langsung diregister PHI dengan Nomor: 15/6/2008/PHI.PDG. Ratusan karyawan yang menolak sistem ‘uang salam’ dari perusahaan mendatangi gedung PHI sekitar pukul 11.30 WIB. Menurut staf di PHI, gugatan tersebut segera dilaporkan pada Ketua Pengadilan Negeri Padang yang membawahi PHI. Jalannya persidangan nanti akan diketua salah seorang hakim karir dan dua hakim ad hoc dari unsur SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) dan APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia).

Kuasa hukum ratusan karyawan Asia Biscuit mengaku, gugatan tersebut merupakan jalan terakhir yang diambil karyawan mengingat berbagai mediasi yang dilakukan menemukan jalan buntu. “Pada intinya 178 mantan karyawan PT Asia Biscuit itu tidak menerima penghentian sepihak yang dilakukan perusahaan sehingga mereka mengajukan gugatan. Karena PHK (pemutusan hubungan kerja-red)nya tidak sesuai dengan aturan, para karyawan berharap bisa dipekerjakan kembali,” ujar kuasa hukum penggugat Vino Oktavia SH pada POSMETRO.

Diakui Vino, PHK sepihak tersebut dinilai cacat hukum karena uang pisah (uang salam) yang diberikan perusahaan hanya sebesar 15 persen dari kewajiban perusahaan yang harus dibayarkan pada karyawan. Karyawan dengan masa kerja mencapai 32 tahun, aku Vino, hanya menerima uang pisah sebesar Rp 2,7 juta. Padahal, ungkapnya, Pasal 156 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perusahaan mesti memmberikan pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang pengganti hak, jika memPHK karyawannya.

“Undang-undang tersebut tidak mengenal istilah ‘uang salam’ yang diberikan perusahaan (Asia Biscuit) jika pun itu disamakan dengan pesangon, tentunya jumlahnya mesti disesuaikan dengan masa kerja karyawan,” aku Vino. Pada Pasal 156 ayat 2 dan ayat 3 UU tersebut dijelaskan secara gamblang, karyawan yang memiliki massa kerja di atas delapan tahun memperoleh pesangon sebanyak 9 bulan upah.Sedangkan karyawan yang memiliki masa kerja lebih dari 24 tahun, berhak mendapatkan uang penghargaan sebesar 10 bulan upah.

Pesangon paling rendah diterima karyawan yang belum lengkap bekerja selama satu tahun dengan nilai pesangon 1 bulan upah. Sedangkan uang penghargaan berhak diterima bagi karyawan telah bekerja 3 tahun ke atas. Sejak perusahaan roti tersebut menghentikan aktivitasnya pada 22 Desember lalu, sekitar 500 karyawannya dirumahkan. Pertentangan karyawan dengan pihak manajemen berbuntut dengan penutupan produksi perusahaan roti tersebut. PT Asia Biscuit merupakan perusahaan yang ikut hengkang dari Padang mengikuti lima perusahaan swasta lainnya yang berhenti beroperasi.

Menurut data, dalam lima tahun terakhir, sudah lima pabrik yang berhenti berproduksi di Kota Padang. PT Sumatek Subur, anak perusahaan Texmaco yang memproduksi benang merupakan perusahaan pertama yang berhenti beroperasi. Secara berturut-turut diikuti, PT Rimba Sungkiong, produksi kayu lapis; PT Poliguna memproduksi seng; PT Hadis Didong memproduksi sabun; dan PT Jasasentrikom memproduksi tiang listrik. (eri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s