Seabad Kebangkitan Bangsa

Seabad kebangkitan nasional ‘tak ubahnya seperti kembali ke awal abad 20 di mana bagsa ini masih tertindas secara ekonomi, politik,dan kondisi pendidikan masih seperti era ’08,” ujat Abel Tasman, sejarawan muda yang didaulat sebagai pembicara tentang ‘kebangkitan nasional’ di Carano Room.

Banyak hal menarik dalam diskusi seabad kebangkitan nasional dan 10 tahun era reformasi digulirkan yang dipandu Direktur Sumbar Intelektual Society. Dua pembicara yang mewakili responden ’66 dan angkatan reformasi ’98, memberikan titik tolak perjuangan perubahan sesuai zamannya. Abel Tasman yang didaulat berbicara dalam konteks sejarah, tampil blak-blakan mereformasi pikiran pserta diskusi.

Bakhtiar Kahar yang mewakili responden ’66 dan Husni Kamil Malik angkatan ’98 sepakat, setiap perubahan yang diusung pada zaman masing-masing memiliki kelemahan mendasar yakni tidak adanya pengawalan terhadap konsep yang diusung. Mereka sepakat, perubahan yang dilakukan hanya muncul sebatas pergantian sosok pemimpin tanpa menyentuh pada perubahan sistem. Bahkan, lebih ekstrimnya, tokoh-tokoh perubahan yang masuk ke sistem terkontaminasi dan ‘tak mampu menjalankan konsep perubahan yang diusung.

Dua era berbeda perjalanan perubahan nasional–era ’66 hingga ’98–gagal menjalankan ideologi yang mereka usung. Angkatan ’66 terjebak dalam rezim orde baru-nya Soeharto. Meskipun sedikit, angkatan ’66 punya peran ‘sedikit’ membantu gerakan ’98 yang dimotori para aktifis mahasiswa. “Dulu kita punya gerakan yang bersifat masif sehingga semua elemen maju bersama untuk menentang rezim yang berkuasa dengan konsep menurunkan Soeharto,” ujar Husni Kamil.

Husni menilai, tanpa dukungan partai politik, tentunya usaha mahasiswa hanya akan menjadi isapan jempol belaka. Peran partai politik tersebut yang dimainkan beberapa tokoh angkatan ’66 untuk mendongkel kepemimpinan Soeharto sehingga pada bulan Mei ’98, Soeharto resmi mengundurkan diri. Tapi, ada yang kurang selama konsep reformasi digulirkan angkatan ’98. “Kita tidak paham apa tujuan ke depan dari reformasi itu sendiri dan terlihat kalangan pendobrak tidak memiliki konsep yang jelas,” tegas Husni.

Bakhtiar Kahar pun mengaku, konsep reformasi kehilangan arah sehingga konsep orde baru-nya ala Pak Harto, masih mengisi kekosongan visi pada pasca reformasi. “Kita hanya ganti pemimpin, konsepnya masih itu ke itu saja,” tagas Bakhtiar. Abel Tasman, menterjemahkan dalam bahasa ringan bahwa kondisi bangsa pasca reformasi kembali ke titik nol di awal pendeklarasian berdirinya Boedi Oetomo 1908. Menurut Abel, kondisi politik pendidikan, politik, ekonomi, masih mengebiri masyarakat kecil.

Berkaca pada perubahan yang dilakukan negara timur tengah seperti Iran, Abel menilai, Indonesia butuh memperhatikan gizi masyarakatnya. Menurutnya, perubahan sulit terjadi jika pemerintah tidak memperhatikan masalah pendidikan dan kesehatan masyarakatnya.

Ketiga pembicara sepakat, pendidikan menjadi target jangka pendek pemerintah agar benar-benar mampu bangkit dari kondisi sulit seperti sekarang. Husni berpendapat, pendidikan mesti mendapat sektor khusus bagi pemerintah pasca dicabutnya subsidi BBM. Abel Tasman lebih mengkritik, pendidikan Tanah Air gagal total. Abel setuju, pemerintah mesti membebaskan biaya pendidikan dasar. “Bagaimana mungkin sekolah negeri tapi tetap harus membayar?!” tegasnya.

Konsep pendidikan yang mengarah pada komersialisasi, dinilai ketiga pembicara, hanya akan membuat bangsa ini semakin terpuruk. Konsep apa yang ditawarkan ketiga pemibicara agar sistem berbangsa dapat diperbaiki? “Angkatan muda mesti segera masuk ke dalam sistem sehingga bisa melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik,” hal itu terungkap dari ketiga pembicara.

Husni menilai, kalangan muda mesti berbuat dengan lebih mempersiapkan diri tanpa mengenyampingkan kalangan tua. Angkatan ’66 yang diwakili Bakhtiar beranggapan, perubahan tidak hanya selalu mengenyampingkan yang tua-tua, tapi dengan konsep: “Lakukan perubahan di mana pun kita berada, jangan termakan sistem!” tegasnya. Abel Tasman bersejarah, perubahan selalu diusung kalangan muda. “Alexander nan Agung menguasai separoh dunia pada usia 27 tahun. Sejarah selalu menunjukkan keberpihakkannya pada kalangan muda sebagai basis pendobrak ke arah yang lebih baik.”

Dari tiga pembicara tersebut, terbersit benang merah, kalangan muda diapungkan sebagai generasi pendobrak sistem birokrasi yang berkembang sedemikian feodalnya sejak dilepas Belanda. Pertanyan muncul: Sejauh mana kesiapan angkatan muda untuk mendobrak sistem feodal yang begitu mengakar? Siap tidak siap tentunya mesti dikasih kesemptan. Bicara siap, tentunya selalu dikaitkan dengan pengalaman. Secara mendasar, ‘tak satu pun presiden pasca Pak Harto yang menduduki RI 1 memiliki pengalaman sebagai presiden.

Kesimpulannya, seberapa siap kalangan muda untuk memimpin tidak perlu dipertanyakan dan dijadikan alasan untuk tidak diberi kesempatan. Pertanyaan yang mungkin timbul selanjutnya: Seberapa siapkah kalangan tua untuk memberikan kesempatan pada yang muda untuk melakukan perubahan? Kasih yang muda kesemptan, tentunya mereka akan berbuat dengan dukungan bersama.

Tapi, maksud yang muda di sini tidak hanya sebatas orang muda. Muda dalam artian [mungkin] belum terkontaminasi dengan sistem birokrat feodal yang berkembang selama ini. Siapa pun orangnya, asal punya niat untuk memperbaiki keadaan, tentunya akan mendapat dukungan dari yang muda. Bangsa ini butuh gerakan moral seperti yang dilakukan Gandhi di India dan Nelson Mandela di Afsel. Butuh kesadaran bersama, bangsa ini milik bersama bukan hanya millik segelintir orang.

Suatu malam saya bermimpi, hidup pada suatu daerah yang begitu tenang dan damai di mana antara rakyat dan pemimpinya saling bahu membahu memperbaiki nasib bangsa. Mereka membentuk badan usaha negara yang akses informasinya terbuka bagi setiap masyarakat. Tak ada yang ditutup-tutupi. Informasi keuangan badan usahanya disampaikan secara terbuka hingga siapa pun bisa menerimanya dengan baik.

Birokrasinya tidak berbelit-belit. Pelayananya pun tidak menggunakan arogansi yang menunjukkan ‘siapa gue’. Mereka saling bercengkrama sehingga tidak ada batasan antara pemerintah dengan masyarakatnya. Semua informasi terbuka dan dapat diakses dengan mudah. Setiap kebijakan pemerintahnya dipublikasikan pada masyarakatnya. Tatkala ada persoalan, pemecahannya pun dilakukan secara bersama tanpa memandang satu kepentingan kelompok. Ketika terbangun, saya tersenyum dan berpikir: Kapan kita menuju ke sana? (erinaldi)

2 thoughts on “Seabad Kebangkitan Bangsa

  1. muda memang harus berbuat…muda bukan berarti muda dari segi umur semata..mungkin maksud muda di sini, muda dalam artian belum terkontaminasi dengan sistem yang berkembang…maju terus pemikiran muda nan jernih yang didasari tekad untuk perubahan ke arah yang lebih baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s