Akhirnya BBM Pun Naik

(ceplas-ceplos)
Erinaldi*

Tepat jam 00.00 Jumat malam pemerintah akhirnya sepakat menyesuaikan harga bahan bakar minyak–kata lebih halus ketimbang menaikan harga BBM. Langkah berani pemerintah menentang arus demonstran yang mulai menyulut pertengkaran [keributan] antara dua elemen bangsa (Polisi dengan mahasiswa [wakil rakyat?]).

Lupakan saja soal aksi keributan dua elemen tersebut, karena toh harga BBM tetap disesuaikan. Melupakan bukan berarti mengabaikan perjuangan dua kubu yang tengah berjuang memainkan perannya–Polisi menjaga ketertiban umum; mahasiswa menyampaikan aspirasi rakyatnya. Bila mengkaji alasan pemerintah menaikan BBM, dari sudut ekonomi, bisa dicerna akal. “Untuk mengurangi beban keuangan negara dalam penyusunan APBN yang semakin tinggi akibat melonjaknya harga minyak mentah di pasar internasional.” Kira-kira itu alasan utama yang diutarakan pemerintah dalam beberapa hari belakangan menjelang menaikan harga BBM.
Sebelum bicara lebih jauh, saya perlu mengutip tulisan teman yang sering ngeblog untuk tukar pikiran. Arif Miradi, pernah membuat definisi menarik tentang pemerintah. Kira-kira ungkapannya seperti ini: “Sebut saja kita semua yang hidup di tanah kepulauan nusantara ini mempunyai banyak sekali persamaan nasib, entah itu bahasa, budaya atau sama-sama pernah kompakan melawan penjajah, sehingga kita merasa saling bersaudara satu sama lain.
Karena semua sibuk dengan urusan nafkah masing-masing, maka orang mulai berpikir: ‘rasanya kita perlu menunjuk koordinator untuk ngurusin kepentingan-kepentingan umum kita’. Koordinator itulah yang kemudian menjadi entity bernama Pemerintah. Lalu, kepentingan umum kayak apa saja yang mesti diurus pemerintah? Yang jelas ya kayak infra-struktur jalan umum, irigasi, pemadam kebakaran, termasuk nangkepin maling dan menjaga wilayah dari serangan negara lain.
Moral of the story nya adalah Pemerintah itu diciptakan oleh masyarakat, sama seperti Monalisa diciptakan oleh Leonardo da Vinci (disini saya bicara dalam area rule of law, bukan rule of king atau queen). Saya yakin semua bisa sepakat bahwa Monalisa tidak mungkin bisa membinasakan Leonardo da Vinci (yang diciptakan tidak mungkin membunuh yang menciptakan). Tapi masihkah kita percaya bahwa Pemerintah tidak mungkin membinasakan rakyat yang menciptakannya?”
Rekan Kesatuan Aksi Mahasiswa Islam (KAMMI) Sumbar justru memiliki pemikiran yang hampir mendekati komentar Arif. Mereka beranggapan pemerintah akan mempersulit masyarakatnya sendiri dengan ide pencabutan subsidi BBM dalam APBN. Cara tersebut dinilai keliru karena masih ada item lain yang bisa ditempuh untuk mengurangi beban anggaran. “Kurangi saja penggunaan anggaran pada sektor pembagunan fasilitas pemerintah dan pembelian mobil dinas,” aku Riyandi Praza, Ketua Umum KAMMI Sumbar.
Opsi lain yang ditawarkan KAMMI, pungut provit tax (pajak keuntungan) dari beberapa perusahaan swasta yang mendapatkan keuntungan lebih dengan naiknya harga pasaran minyak dunia. Kata mereka, sekitar Rp 75 Triliun bisa dihasilkan dari sekto tersebut. “Persoalannya apa pemerintah mau berbagi dengan konglomerat ketimbang rakyatnya sendiri?” aku Riyan. Ada benarnya juga, ekonomi nasional mulai berbalik arah dari konsep kerakyatan. Dengan alasan menarik investor, pemerintah rela memberi keringanan pajak bahkan pembebasan pajak (tax holiday) pada konglomerat.
Satu kesimpulan yang bisa ditarik dari dua persoalan yang muncul. Kenaikan BBM terjadi tanpa diskusi mendalam sehingga menimbulkan friksi tajam antara pemerintah dengan masyarakat yang menciptakannya. Bagaimana mungkin masyarakat sendiri tidak mengetahui opsi-opsi lain yang dirancang pemerintah selain mencabut subsidi BBM? Padahal masyarakat itu pencipta mahkluk yang namanya pemerintah.
Sebelum menaikan BBM, pemerintah memprediksikan, kenaikan harga minyak dunia akan membebani anggaran. Ada beberapa opsi yang akan diambil untuk mengurangi beban anggaran dan salah satunya–katanya opsi paling akhir–mencabut subsidi BBM yang berdampak pada penyesuaian harga. Apa mau dikata, harga BBM telah disesuaikan dan pemerintah terkesan kucing-kucingan dengan penciptanya untuk mengambil opsi terakhir tersebut.
Lupakan saja soal itu. BBM telah naik, dan kemungkinan untuk turun kembali sangat kecil; meskipun tidak tertutup kemungkinan untuk diturunkan [hayalan]. Point pentingnya di sini, kalau mahkluk ciptaan kita tidak bisa berhemat, penciptanyalah (masyarakat) yang lebih mengefisiensikan penggunaan anggarannya, walaupun jumlahnya sudah asngat terbatas. Tidak perlu ada keributan lagi dengan mengidam-idamkan keadaan seperti tahun ’98. Saya percaya, masyarakat kita memiliki kekuatan yang dahsyat untuk bangkit dari segala keterpurukan. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s