Budaya Selingkuh Di Lingkungan Birokrat

Selingkuh 2Esa dan beberapa orang temannya begitu hafal menyanyikan lagu ‘Teman Tapi Mesra’ miliknya Ratu. Sekelompok siswa kelas 1 Sekolah Dasar tersebut terlihat begitu terhibur menyanyikan lagu bertema selingkuh itu. Mereka menggeleng ketika ditanya mengenai pesan moral TTM. Namanya anak-anak, begitu enak di telinga, sepanjang hari mereka akan menyanyikannya.

Di pusat-pusat pertokoan, pengunjung lebih hiruk pikuk ketika ada barang baru yang diperjualbelikan ketimbang membaca koran. Ketika dikabari tentang perselingkuhan, jawabannya pun beragam. Ada yang sekedar menjawab: “Ooo…” Yang sedikit nyentrik dan punya rasa ingin tahu lebih besar biasanya menanyakan: “Siapa yang selingkuh? Di mana? Kok bisa ketahuan ya? Apes kali ya…Salah pilih tempat kali!.” Paling tidak, situasi tersebut dijumpai pada masyarakat perkotaan. Kurangnya kepedulian, melahirkan sikap permisif dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Mereka akan beraksi ketika dikabari suami atau istrinya selingkuh.

“Budaya permisif masyarakat perkotaan menjadi penyebab terjadingya perselingkuhan. Hal itu diperburuk dengan budaya seni yang berkembang belakangan ini–tema lagu melukiskan selingkuh bukan hal yang luar biasa,” aku Pengamat Sosial Universitas Andalas Padang Dr Damsar. Selingkuh sudah menjadi suatu yang biasa sehingga tidak perlu diperdebatkan. Pelakunnya–pelaku perselingkuhan–didominasi kalangan birokrat negeri ini dari tingkat pusat hingga daerah. Beberapa waktu lalu, media massa dihebohkan dengan berita perselingkuhan yang melibatkan anggota DPR-RI.

Trend tersebut juga berkembang hingga ke daerah. Baru-baru ini, pasangan mesum–oknum pegawai negeri sipil (PNS) di lungkungan Solok–tertangkap masa saat berselingkuh di salah satu tempat wisata di Kota Padang. Sebelumnya, oknum PNS di Pemprov Sumbar juga menyebarkan foto syur selingkuhannya di ponsel (telpon selular). Hasil pemeriksaan polisi, oknum tersebut mengaku, foto-foto itu diambilnya saat berhubungan intim dengan selingkuhannya.

Menurut Damsar, lemahnya sanksi yang diberikan pada pelaku membuat persoalan tersebut seperti tak kunjung teratasi. “Secara aturan (undang-undang kepegawaian) selingkuh dilarang, sedangkan agama membolehkan terjadinya poligami. Saya rasa itu juga penyebab terjadinya perselingkuhan,” aku Damsar. Undang-Undang tentang kepegawaian mengatur mengenai disiplin Pegawai Negeri Sipil di dalam maupun di luar kedinasan. Secara tegas, pemerintah mengenakan sanksi pemberhentian jika melakukan poligamy (kawin batambuah). Hanya saja, berselingkuh tidak ada aturan yang tegas sehingga oknum PNS lebih memilih selingkuh untuk memuaskan hasrat biologis ketimbang poligami.

“Kalau poligami tegas, PNS-nya dicopot, kalau selingkuh tidak ada aturannya. Itu bisa dijadikan alasan kenapa muncul kasus oknum PNS yang melakukan perselingkuhan,” tegas Damsar. Lemahnya sanksi, tak urung persoalan-persoalan serupa kian berkembang layaknya trend busana yang akan muncul. Kurangnya rasa kepedulian lingkungan–terutama perkotaan–memberikan ‘angin segar’ berkembangnya perilaku negatif yang cenderung inovatif.

Tak bisa dipungkiri, aku Damsar, lemahnya sanksi sosial dari masyarakat terhadap pelaku ‘perzinahan’ tidak memberikan efek jera pada pelaku. Sehingga, kejadian serupa terus berulang dan berulang tanpa bisa dicegah. “Sanksi sosial hanya ada di masyarakat pedesaan. Pada masyarakat perkotaan, tidak mengenal adanya sanksi sosial karena sikap indvidualistis yang lebih populer,” jelasnya. Ketidaktegasan sanksi pada pelaku ‘perzinahan’, kasus-kasus perselingkuhan akan terus mengisi halaman depan surat kabar. (erinaldi)

3 thoughts on “Budaya Selingkuh Di Lingkungan Birokrat

  1. Memang benar, msyarakat semakin permisif pada perselingkuhan. Padahal selingkuh adalah perbuatan yang nista, haram, dan bisa menghancurkan perkawinan pihak-pihak yang berselingkuh. Nilai-nilai agama dan moral rupanya semakin kendor. Bagaimana ya cara mengatasinya?

  2. setuju, budaya selingkuh memang sedang menjadi trend sekarang. Seperti kanker mengerogoti sendi budaya dan agama. Sekali lagi layaknya penyakit mematikan, kadang tidak terdeteksi, kalau sudah amematikan saja langsung merenggut nyawa. Selingkuh telah menyusup kedalam segala lini kehidupan. Perselingkuhan ideologi, agama. Tak tahu lawan siapa kawan. Bahkan makin gencar dilakukan pada saat perebutan kursi di april 2009 mendatang. Begitu juga agama juga di selingkuhi dengan menggunakan jargon- jargon agama mereka berkoar- koar memikat kaum awan tak lain tak bukan untuk memperkuat posisi. Namun belang dan topeng itu tersingkap jua, yah anda tinggal nilai saja partai islam mana yang tersangkut masalah suap BLBI, perempuan dan masih banyak lagi di bangsa yang katanya berbudipekerti luhur ini ?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s