Bocah-Bocah Besi Di Perempatan Jalan

Wajahnya kusam, rambutnya acak-acakan. Bajunya lusuh ditimpali debu jalanan dan asap knalpot kendaraan. Dengan suara yang lengking–mirip bariton–ia bernyanyi tanpa menoleh ke pengendara mobil. Karena diburu waktu, tak satu pun tembang yang berhasil dinyanyikan sampai selesai.

Berbekal giring-giring–sejumlah tutup botol minuman yang dipaku di sebatang kayu kecil–dan gelas plastik bekas minuman mineral, Yani (10) terlihat mendatangi pintu-pintu mobil. Dengan menyanyikan tembang anak jalanan: “dari pada kami nyolong ayam orang.. digebukin tiga bulan kurungan penjara…lebih baik kami ngamen buat jajan dari pada kerja yang bukan-bukan,” dengan nada fals.
Terkadang, hanya lambaian tangan dari dalam mobil yang menghentikan suara sumbang miliknya. Seperti tak mau menyerah, ia pun berpaling munuju mobil lain. Belum sempat mengayunkan alat musiknya, sang empunya mobil sudah angkat tangan. Kejadian seperti itu sering berulang dan berulang. Seperti tak pernah kehabisan tenaga, Yani pun tak bosan-bosan mendatangi setiap mobil yang terjebak trafficht light perempatan jalan Pemuda. Karena usahanya, gelas plastiknya pun dilempari uang receh yang sempat berputar-putar dan akhirnya diam dengan sendirinya.
Yani tak sendirian. Bocah kecil yang hanya berbekal plastik minuman ringan juga terlihat mendatangi mobil-mobil yang tengah menunggu lampu merah bertukar hijau. Pakaiannya menyedihkan. Suara kecilnya menyapa para pengendara mobil: “Pak,” lirihnya singkat sambil mengacungkan gelas plastiknya. Karena iba, pengendara pun tak segan-segan memberikan uang receh ke tempat yang disediakan si bocah.
Wajah kecilnya seperti tidak mengguratkan rasa kesulitan hidup. Sambil menjilati es manis, ia terus saja bergerak lincah di samping-samping kendaraan berkejaran dengan waktu traffict light. Hampir setiap hari ia berada di perempatan jalan tersebut. Tak peduli hujan maupun terik matahari. Ia tetap saja berlari tatkala lampu merah menyala sambil menyodorkan gelas plastiknya. Keberadaan mereka sama sekali tidak menarik perhatian dari pengendara mobil. Seperti tak peduli dengan orang-orang yang dimintainya uang, bocah kecil yang mengaku bernama Adi (7) tersebut juga tidak menggubris pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Seperti tak mendengar, kehidupan keras telah mengubah watak kanak-kanak mereka yang periang.Bersama Adi, kerap terlihat wanita kecil yang seumuran dengannya. Ia mengenakan jilbab dan wajah kumal yang tak tersentuh pembersih. Motifnya pun sama dengan Adi. Ia tak mau kalah berjuang mendapatkan recehan. Wajah lelah tak mampu mereka sembunyikan. Tubuh kecil yang seharusnya dibekap kasih sayang orang tua itu mesti menggelandang mengejar recehan. Mereka tak seharusnya bekerja sedemikian kerasnya. Saban hari–tak kenal cuaca–bocah-bocah besi tersebut tidak terlihat mengeluh meskipun kakinya seperti goyah menopang tubuh kelelahan mereka. Tak jarang, ketika petugas penegak Peraturan Daerah (Satuan Polisi Pamong Praja) menghalau, mereka juga ikut berlari tak tentu arah. Entah motivasi apa yang menghantui mereka, melihat seragam hijau muda dan berbaret ala tentara milik Satpol PP, bocah-bocah tersebut begitu ketakutan. Ada yang tertangkap, ada yang selamat. Namun, hal tersebut tak membuat mereka jer/kapok. Begitu penertiban reda, bocah-bocah tersebut kembali menggelandang di perempatan jalan sambil menadahkan gelas plastik kecil menunggu recehan. Mereka tidak hanya bertiga, masih banyak tokoh-tokoh serupa yang menghuni perempatan jalan pusat-pusat kota yang menggelandang entah untuk keperluan apa. (erinaldi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s