Banjir Menyerbu Kota Padang

Ancaman banjir melanda kota bukanlah hayalan semata. Berkaca pada hujan deras yang mengguyur Kota Padang, SUmatera Barat, Kamis kemarin, membuat warga kota mesti waspada. Walaupun intesistas curah hujan tidak terlalu tinggi dan berlangsung hanya beberapa jam, belasan daerah digenangi banjir akibat tidak berfungsinya riol-riol dengan baik.
Di kawasan Tan Malaka, Jati 1 dan Jati 2, belasan kendaraan terjebak banjir yang datang tiba-tiba karena riol-riol tak mampu menampung debit air dari daerah padat penduduk tersebut. Kawasan sepanjang jalan Tan Malaka dan sebagian Perintis Kemerdekaan menjadi tidak ramah bagi para pengendara motor dan roda empat. Bagi sebagian masyarakat setempat, banjir tersebut bukanlah hal baru. Berbeda tentunya dengan warga yang mendiami kawasan Sawahan Timur–sejalur dengan RS M Djamil Padang.
Masyarakat setempat terselamatkan karena kanal besar yang membelah kawasan Jati di jalan Perintis Kemerdekaan. Kanal yang diperlebar sejak tahun 90-an tersebut masih mampu menampung air dari riol-riol yang berada di kawasan Jati sebelah jalan Sudirman dan Jati Timur searah M Djamil. Sayangnya, sejak dibangun, pengerukkan kanal utama tersebut belum pernah dilakukan sehingga proses pendangkalan pun terjadi. “Sejak dibangun tidak pernah dikeruk, hanya rumput-rumputnya yang dibersihkan,” aku Muchni (59) warga setempat yang telah bermukin di bantaran kanal tersebut sejak tahun ’73, Minggu (6/7)
Sekitar tahun 2002, pemerintah berinisiatif membobol pinggiran Banda Bakali agar jalur air di sepanjang jalan Perintis Kemerdekaan tidak hanya berhulu ke Batang Araw. Pembagian tersebut terbilang efktif sehingga pembagian debit air bisa dilakukan. “Untung saja aliran airnya dibagi seperti sekarang. Kalau tidak kanal ini tidak akan mampu menampung debit air yang ada dari sekitar sini,” aku Muchni.
Sebelum di bagi menjadi dua jalur, kanal di jalan perintis bermuara di Batang Araw. Kawasan yang sering menjadi luberan kanal tersebut yakni kawasan M Djamil hingga simpang lampu merah Masjid Istiqomah. Sebelum riol di jalan Taduah diperbaiki, kawasan tersebut kerab menjadi langganan banjir. “Dulunya banjir mulu kalau hujan,” aku Budi, mahasiswa yang ngekos di jalan Taduah. Kecemasan warga di bantaran kanal di jalan Perintis cukup masuk akal. Sekitar tahun 90-an, daerah Jati pernah digenangi air setinggi lutut orang dewasa. “Kejadian itu pernah terjadi karena pasang laut juga naik,” aku Ketua RT 02 RW 01 Sawahan Timur Ir Darmansyah. Saat hujan lebat bertepatan waktunya dengan gelombang pasang di Samudera Hindia, banjir besar tidak dapat dihindari karena kanal di jalan perintis sudah tidak mampu menampung luberan air dari puluhan riol di daerah Jati yang bermuara di sana.
Buruknya kondisi kanal diperparah dengan kondisi masyarakat yang masih memanfaatkan aliran air sebagai tempat pembuangan sampah. “Saya sudah sering mengingatkan jangan buang sampah ke saluran air. Terkadang tidak digubris,” aku Darmansyah. Selain itu, di kawasan hilir kanal Perintis–kawasan Parak Ino hingga Pasa Gadang–banyak dihiasi tiang-tiang beton penyangga rumah. Logikanya, keberadaan tiang beton tersebut mempengaruhi arus air menuju Batang Araw.
Tak hanya di kawasan tersebut yang rawan banjir. Di sepanjang jalan Khatib Sulaeman, Jhonny Anwar, genangan air gampang dijumpai tatkala hujan mengguyur. Hal serupa juga didapati di kawasan padat penduduk seperti: Siteba, Lubuk Buaya, Komplek Belimbing dan beberapa kawasan pinggiran kota lainnya. (erinaldi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s