Roda Kehidupan Berhenti di Bukik Napa

Sekitar 80 kepala keluarga mendiami areal pebukitan di kawasan Bukik Napa, Simpang Akhirat, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Dari Bukik Napa, jutaan lampu beragam warna memancar indah layaknya taman gantung Babilonia jika melayangkan pandangan ke arah pusat kota.
Berbanding tebalik dengan kawasan pebukitan yang dijadikan areal kuburan umum bagi masyarakat Kuranji. Kelap-kelip lampu penerangan seperti langit malam yang diselemuti mendung tebal. Hanya satu-satu penerangan lampu listrik yang memancarkan cahaya titik-titik dari kejauhan. Sepertinya, roda kehidupan berhenti di Bukik Napa.
Rata-rata masyarakat Bukik Napa berprofesi sebagai petani, pedagang sayur, dan pencari kayu bakar. Beberapa tahun belakangan, pemerintah membangun sekolah menengah di areal pebukitan tersebut. Keberadaan SMA Negeri 16 diharapkan masyarakat setempat dapat memicu perekonomian. Enam tahun berjalan, manfaat tersebut tak kunjung menghampiri puluhan keluarha yang bermukin di areal pebukitan tersebut. Padahal, menurut pengakuan masyarakat setempat, untuk pembangunan SMAN terakhir tersebut, mereka rela memberikan tanah dan ladangnya pada pemerintah.
Belasan pohon rambutan, kulit manis, pohon kelapa, milik warga yang sedang berbuah direlakan demi pembangunan fasilitas umum untuk kemajuan pendidikan warga. Janjinya, puluhan pohon yang dijanjikan untuk diganti, hingga kemarin masih belum ada realisasi pembayarannya oleh pihak berwenang. Bahkan, aliran listrik yang dijanjikan pun tak kunjung mengalir ke warga. Satu tiang pun belum terpasang.
“Sejak 1978, kita tidak bisa menikmati aliran listrik layaknya masyarakat perkotaan,” ujar tokoh masyarakat setempat yang terkenal cukup vokal Khaidir (55). Pria paroh baya yang akrab disapa Udin Pulau tersebut mengaku prihatin dengan nasib 80 KK yang mendiami areal puluhan hektare tersebut. Di saat daerah lain mulai berbenah, Bukik Napa seperti tertidur panjang.
Menurut Khaidir, antisiasi penerangan bagi 80 warga setempat dilakukan dengan swadaya. Masyarakat tersebut menyambung aliran listrik melalui meteran induk. Sekitar 500 meter kabel direntangkan menuju Mushalla Baitul Amin. “Nanti kita membayar lewat pengurus mushalla,” aku beberapa orang warga setempat.
Dari mushalla tersebut, aliran listrik dibagi ke 80 KK dan beberapa fasilitas umum yang berdiri di Bukik Napa.
SMAN 16 Padang juga menerima aliran listrik dari mushalla tersebut. Beberapa fasilitas umum lainnya justru berkalam-kalam tanpa dialiri listrik. Sekolah Dasar 35 Bukik Napa yang memiliki enam lokal terlihat gelap gulita tanpa dilengkapi satu penerangan sedikit pun. Kondisi sekolah tersebut cukup memprihatinkan. Dua unit rumah yang diperuntukkan bagi guru SD tersebut, terlihat tak terurus. Atapnya mulai hancur dan hampir rubuh. Masyarakat setempat mengaku, proses pendidikan masih berjalan seperti biasanya.
Tak banyak yang diharapkan masyarakat setempat. Dengan keluguan dan kepolosannya mereka berharap, pemerintah dapat memperhatikan nasib mereka. “Kami hanya berharap pilkada mendatang melahirkan pemimpin yang bisa menepati janji,” aku Khaidir.
Selama ini, aku Khaidir, keluguan mereka sering dimanfaatkan sehingga ketertinggalan enggan beranjak dari masyarakat setempat. Beberapa hari kemarin, jalan tanah yang biasanya dilalui masyarakat setempat menuju Bukik Napa telah beraspal. Hanya sebagian kecil yang masih dilapisi tanah dan jalan setapak. Ke depan, masyarakat setempat berharap, pemerintah memberikan perhatian yang sama pada Bukik Napa seperti daerah-daerah Kota Padang lainnya. (erinaldi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s