Merah Menyala Warnai Perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong

KlentengJelang perayaan tahun baru Imlek 2560 , masyarakat etnis Tionghoa di Padang sibuk mempercantik Klenteng See Hin Kiong di jalan Klenteng, Padang Selatan. Satu-satunya klenteng yang dijadikan tempat beribadat bagi penganut Budha, Kong Hu Cu, Tao, kian didandani.

Ratusan bahkan ribuan lampion yang didominasi warna merah menyala menjuntai di halaman depan Klenteng dan tergantung disepanjang jalan tersebut. Suasana meriah terasa menyergap perjalanan saat melintasi kawasan yang dihuni etnis Tionghua di Padang.  Rumah-rumah masyarakat keturunan pun tak luput dari gemerlap cahaya lampion yang berbentuk lingkaran dengan berbagai ukuran.
Di Klenteng See Hin Kiong, sejumlah pengurus tempat beribadat itu mulai merapikan pelataran halaman hingga bagian dalam gedung. Bangunan tua yang sempat terbakar di tahun 1861 itu terlihat kian megah. Dengan umur bangunan yang mencapai ratusan tahun, Klenteng Tri Darma masih terlihat kokoh. Gempa besar beberapa waktu lalu tidak mempengaruhi struktur bangunan yang dipugar kembali setelah kebakaran hebat ratusan tahun silam.
Kesibukan di Klenteng terlihat makin serius mendekati dua hari jelang perayaan Imlek yang jatuh 26 Januari. Sejumlah persiapan untuk sembahyang dan memanjatkan doa bagi penganut tiga agama tersebut pun mendekati rampung. “Semua perkakas didominasi warna merah,” aku salah seorang pekerja saat ditemui di Klenteng, Jumat (23/1).
Penggunaan warna merah sekaitan dengan perayaan Imlek yang kerab diartikan sebagai hari terang benderang. Tak ayal, ratusan watt lampu digunakan untuk menerangi Klenteng. Satu unit lampu sorot berkekuatan besar juga terpasang di tengah-tengah Klenteng yang akan menyinari Tie Kong (Tuhan). Sejumlah peralatan seperti lilin, dupa, serta kertas emas, didominasi warna merah. Perkakas tersebut digunakan mereka yang datang untuk sembahyang dan berdoa di Klenteng memanjatkan rezki pada para dewa. Sejumlah altar pun dipersiapkan untuk sarana pemanjatan doa. “Setiap mereka yang datang akan mendapatkan sepasang lilin, sekantong dupa, dan setumpuk kertas emas,” jelas Indra, Sekretaris Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Klenteng See Hin Kiong.
Setiap pengunjung akan memanjatkan doa pada 13 dewa yang berada di dalam Klenteng. Pemujaan pertama dilakukan pada Tie Kong (Tuhan) yang altarnya tepat berada di tengah-tengah Klenteng. Kemudian dilanjutkan pada 13 Dewa yang berada di dalam Klenteng yang telah dilengkapi dengan nomor seperti Tho Tie Kong (Dewa Tanah), Koan Tie Kong (Panglima Perang), Kuan Iem, hingga Thay Siang Laow Tjin (Maha Dewa). Semua altar dewa memiliki arti masing-masing.
Sebelum perayaan hari raya Imlek yang bersamaan dengan tahun baru Imlek, pertunjukan dimulai dengan menampilkan aksi barongsai dari Marga Hoang, Sabtu sore. Aksi barongsai digelar di halaman depan Klenteng sekitar pukul 15.00 WIB. Menurut Indra, arti perayaan Imlek telah berubah dari perayaan semula. “Belakangan, perayaan imlek mengarah pada pagelaran budaya,” jelasnya. Bergesernya makna Imlek bagi etnis Tionghoa, membuat perayaan tersebut tidak hanya dinikmati masyarakat keturunan yang menganut tiga agama tersebut.
Masyarakat keturunan yang beragama di luar Budha, Kong Hu Cu, Tao, juga merayakan hari besar berdasarkan penanggalan China yang dimulai 551 sebelum masehi.
Menurutnya, penanggalan China terbagi dalam dua versi. Di Indonesia, 26 Januari menjadi tahun baru 2560 karena ditanggalkan sejak 551 SM. Di sejumlah negara di luar Indonesia, mencatat perayaan Imlek kali ini tahun 4646 karena penanggalan dimulai berpedoman pada Kaisar Kuang Tie. Siklus pertama penanggalannya dimulai sejak 2637 SM.
“Meskipun berbeda, maknanya sama karena perayaan tahun baru dan hari rayanya juga sama,” ujar Indra. Beberapa tahun belakangan, perayaan Imlek selalu ditafsirkan dengan silaturahmi pada orang tua. Arus balik untuk menemui orang tua akan terlihat meningkat karena satu hari sebelum perayaan Imlek, seluruh anggota keluarga akan berkumpul di rumah tertua menikmati berbagai hidangan.
Sejak reformasi, perayaan Imlek mulai diperkenalkan pada masyarakat luas dan mendapat sambutan antusias. Aksi barongsai dan naga mampu menarik perhatian masyarakat banyak. Keberagaman budaya ini diharapkan Indra menjadi daya tarik Kota Padang. Tepat pukul 00.00 WIB tanggal 26 Januari dini hari, gong, tambur, serta lonceng akan berbunyi pertanda peralihan tahun telah terjadi. (erinaldi)

One thought on “Merah Menyala Warnai Perayaan Imlek di Klenteng See Hin Kiong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s