Golput Haram, Keren…

Cuap-cuap, hehehehe…

Saat Majelis Ulama Indonesia (MUI) berijtima’ Golongan Putih (Golput) haram, hampir setiap orang berkomentar. Ada yang bilang MUI kurang kerjaan karena nyampurin urusan politik.
Ada yang nyentil, kok baru sekarang dibilang haram. Tapi, ada juga kok yang tertolong dengan fatwa tersebut. Parpol serta caleg peserta Pemilu mestinya beterimakasih dengan fatwa tersebut. Kenapa? Karena, meningkatnya partisipasi pemilih akan meningkatkan perolehan suara kontestan Pemilu. Tak hanya itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun sangat terbantu dengan fatwanya MUI.
Lahirnya fatwa MUI diharapkan mampu mendongkrak partisipasi pemilih pada Pemilu mendatang yang dikhawatirkan lebih buruk dari Pemilu 2004. Tapi, kenapa mesti dengan fatwa MUI? Dari sisi lain, fatwa tersebut terkesan memaksa karena jika dinyatakan haram, konsekwensinya–bagi muslim–pasti ada sanksinya.Persoalannya, menyatakan Golput haram mesti didasari dengan dampak yang dilahirkan dengan munculnya pilihan tersebut. Seperti mengkonsumsi babi. Dilarangnya muslim untuk mengkonsumsi daging hewan tersebut karena alasan kesehatan. Daging babi diyakini mengandung banyak cacing pita yang bisa menimbulkan penyakit. Karena lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya, diharamkan bagi muslim untuk mengkonsumsi daging babi–toh masih banyak daging lain yang lebih bermanfaat untuk dikonsumsi.
Berbicara tentang Golput haram, tentunya tak jauh berbeda dari dasar mengatakan daging babi haram. Sejauh mana besarnya mudarat jika orang tidak menyalurkan hak pilihnya? Dari sejumlah data Pemilu sebelumnya, angka Golput di Sumbar mencapai 25 persen dari total jumlah pemilih–berdasarkan data KPU Sumbar tahun 2004. Dengan jumlah pemilih yang mencapai 75 persen, cukup kuat kok bagi pemenang Pemilu untuk menjalankan roda pemerintahan karena yang memilih jauh lebih besar dari yang tidak memilih.
Dengan alasan tersebut, belum cukup kuat untuk menyatakan Golput haram–mungkin untuk saat ini. Dari sisi pemilih, Golput merupakan pilihan yang seharusnya mendapat pengakuan dari semua kalangan. Bagaimanapun, Golput muncul karena mereka tidak tertarik dengan sejumlah Caleg yang muncul sebagai kontestan Pemilu. Bisa jadi, kepercayaan mereka terhadap Parpol menurun seiring dengan banyaknya janji-janji yang tidak dipenuhi mereka saat berkampanye.
Berharap fatwa MUI mampu meningkatkan partisipasi pemilih untuk memberikan suaranya pada Pemilu 2009, belum tentu berhasil. Sebagai salah satu langkah untuk membantu KPU/Parpol/Caleg perorangan untuk mendapatkan tambahan suara, mungkin ada benarnya. Tapi, untuk meningkatkan kepercayaan pemilih akan Parpol/Caleg/Pemilu, kita tidak bisa terlalu berharap banyak.
Fatwa MUI tidak akan cukup untuk membuat masyarakat pemilih berduyun-duyun memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 9 April 2009. Karena, sejauh ini, rendahnya partisipasi pemilih dalam Pemilu disebabkan karena menurunnya kepercayaan masyarakat. Kepercayaan tersebut akan pulih dan tingkat partisipasi akan meningkat bila, Parpol/Caleg/KPU, benar-benar memenuhi janjinya. Bagi Parpol dan Caleg, jika mereka mampu memberikan apa yang disampaikan saat kampanye, partisipasi masyarakat pemilih dengan sendirinya juga ikut membaik. Bagi KPU, jika kinerja lembaga tersebut benar-benar terjaga dan independen–terlepas dari segala kepentingan kontestan Pemilu–tentunya partisipasi pemilih juga akan membaik. (***)

One thought on “Golput Haram, Keren…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s