Sadisme Tewaskan Ketua DPRD Sumut

Sadis!!! Ungkapan itu yang mengalir dari hati dan meluncur lewat omongan saat kita mendengar kabar dari sejumlah media–internet, tv, surat kabar–tentang tewasnya Ketua DPDRD Sumatera Utara Abdul Aziz.

Massa begitu beringas memukul dan mengerumuni seorang pejabat negara yang terlihat tanpa perlindungan petugas keamanan. Serasa berada di tengah-tengah binatang buas yang lapar dan siap menerkam buruannya. Singa pun punya etika untuk mendapatkan buruannya. Tidak semua Singa betina yang berburu menghujamkan gigitan atau cakaran ke tubuh mangsanya.

Apa yang terjadi di Medan lebih buruk dari kebiasaan binatang buas berburu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Sedemikian burukkah perangai masyarakat Indonesia yang terkenal dengan kelembutan penduduk Asia?  Kita tidak habis pikir apa penyebab dari semua itu.

Apa pun alasan dari aksi tersebut tidak bisa diterima akal sehat. Apalagi hanya sebatas keinginan untuk pemekaran provinsi yang seharusnya bisa dibicarakan secara baik-baik.

Setiap kali melihat aksi keberingasan massa yang ditampilkan sejumlah media cetak, saya tidak bisa berkata apa-apa selain: “biadab!!!”. Tapi apa hendak dikata, aksi keberingasan massa di Medan telah selesai dan meninggalkan jejak yang ‘tak akan bisa terhapus dari sejarah kelam demokrasi di Tanah Air.

Berkaca pada kejadian amuk massa di Sumut, patut dipertanyakan tentang perlindungan keamanan bagi pejabat negara–anggota dewan. Sebagai pejabat negara, seharusnya mereka mesti mendapatkan perlakuan khusus yang berkaitan dengan keamanan personal–meskipun mereka (anggota dewan) tidak menginginkannya. Di sejumlah kantor DPRD di Tanah Air, tidak terlihat perlindungan yang bisa mencegah setiap aksi anarkis dari massa.

Di Sumatera Barat, misalnya. Sistem keamanan bagi mereka seperti ‘tak terkelola dengan baik. Ada maupun tidak ada massa, seharusnya kantor yang dihuni para pejabat negara tersebut mesti steril dari hal-hal buruk yang mungkin timbul. Berkata bahwa mereka wakil rakyat dan tidak perlu takut dengan rakyat, itu merupakan hal yang benar.

Tapi, perlu diingat, sejak kran demokrasi dicoba untuk dibuka sejak 1997 lalu, masyarakat kita seperti berada di tengah rimba. Mereka berhadapan dengan demokrasi rimba di mana semua orang punya hak untuk berbuat apa saja. Ini pemahaman dangkal yang akan berkembang terus tanpa kendali jika tidak diiringi dengan pendidikan moral.

Bangsa ini butuh moral. Bukan demokrasi yang diagung-agungkan pihak barat. Demokrasi hanya sebatas kecap bila masyarakat sebuah bangsa hanya mementingkan diri sendiri. Tak ada itu demokrasi di tengah rimba yang dihuni orang-orang bodoh dan berpikiran kerdil. Semuanya mesti ada aturannya. Tidak ada istilah demokrasi tanpa batas. Semuanya ada batasannya.

Berkaca pada kejadian aksi massa di Medan, saya merasakan demokrasi telah kebablasan. Wakil rakyat bukan orang yang bisa kita batasi dan bekerja sesuai kemauan konstituen. Itu keliru!!! Mereka (wakil rakyat) harus diberi kebebasan berpikir secara positif untuk memikirkan kebaikan-kebaikan bagi wilayah yang diwakilinya. Cobalah berpikir realistis.

Mereka dipilih karena lebih mampu dari kita dan diangkat menjadi penyambung lidah rakyat terhadap pemerintah. Mereka lebih mampu dari masyarakatnya–idealnya seperti itu. Walaupun kita merasa lebih mampu dari mereka (anggota dewan), sampaikan aspirasi secara santun tanpa perlu mengeluarkan darah hingga menghilangkan nyawa orang.

Sudah saatnya bangsa ini berpikir maju. Bukan sebaliknya, berpikir jauh ke belakang seperti zaman jahiliah yang mengutamakan kekerasan. Bangsa ini butuh pemikiran bernas, bukan kekuatan lengan untuk menghakimi seseorang sekehendak hati. Kita berharap, kasus serupa tidak akan pernah terjadi di saat bangsa ini sedang mencari jati diri untuk memahami apa itu demokrasi.  Aksi kekerasan sangat jauh dari nilai-nilai demokrasi dan tidak akan pernah mampu untuk menyelesaikan apa pun. (eri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s