Tambal Sulam Hubungan RI-Malaysia

Lama gak nulis, kangen juga…Sekadar cuap-cuap aja, yang penting bisa lepasin tumpukkan kata-kata di kepala. Paling tidak, pengen berbagi dengan kawan-kawan sebangsa dan se Tanah Air, sapa tau ada diskusi yang muncul dari tulisan jelek ini…

Pembajakan seperti enggan menjauh dari negeri elok yang dipenuhi ribuan pulau dan ragam budaya yang tak ada duanya ini. Sebagai bangsa yang tertekan berabad-abad, kreativitas bangsanya seperti tak pernah habis untuk berkreasi. Saking produktifnya, Malaysia pun ampe gak pernah selesai ngeklaim budaya anak bangsa. Yang namanya Tari Pendet, Reok, bahkan lagu band indie asal Padang pun, tak luput dari aksi pembajakan.

Sebagai bangsa, kita merasa bangga, ternyata hanya bangsa yang besar yang bisa menghasilkan karya besar. Kita tidak perlu berkecil hati dengan diadopsinya sejumlah budaya kita menjadi budaya bangsa lain. Kejadian ini memberikan kita pelajaran berharga bahwa bangsa lain menghargai karya kita dan mati-matian mengklaimnya sebagai hasil budaya mereka.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan aksi Malaysia menjual berbagai budaya Indonesia untuk meningkatkan kunjungan wisata ke negeri yang besarnya tak cukup seluas pulau Sumatera. Mereka itu kecil, tidak sebesar Indonesia. Jika digambarkan sebagai orang berkeluarga, Malaysia itu adik kita yang mesti dibimbing dan diberi pengertian-pengertian agar tidak nakal.

Sebagai seorang kakak yang baik, kita harus ngajarin dia agar tidak mencuri (mengambil sesuatu yang bukan haknya), dan lebih menghormati orang yang lebih tua darinya. Awalnya, emang harus baik-baik ngajarinnya–penuh dengan kelembutan sebagai seoarang abang yang baik.

Sekali, dua kali, tiga kali, sebagai bangsa yang besar kita masih bisa memaklumi apa yang dilakukan Malaysia. Tapi, jika dilakukan berkali-kali, selayaknya sebagai abang yang baik, kita harus mukul kakinya atau anggota tubuh yang lain asal jangan kepalanya aja–takut ntar dia pingsan dan gak bisa bernafas lagi.

Terkait ketegangan antara Indonesia-Malaysia, sudah sewajarnya kita menasehati sang adik dengan cara memukul. Ini sudah pantas karena kenakalannya udah kebangetan. Mereka tidak hanya mencuri kreativitas kita, tapi juga berusaha nyuri tanah di halaman kita.

Tidak hanya nyuri budaya, tanah kita aja sudah terbukti pernah dicaplok ama mereka yang merasa besar. Sipadan dan Ligitan, contohnya. Dua pulau terluar ini terpaksa dilepaskan begitu saja ke negeri tetangga karena dia merasa lebih memiliki bukti otentik atas kepemilikan pulau tersebut.

Baru-baru ini pulau Jemur di Provinsi Riau juga dijadikan sebagai destinasi pariwisata Malaysia. Pulau yang tak berpenghuni ini dijajakan Malaysia pada wisatawan sebagai daerah yang patut untuk dikunjungi. Kenakalan Malaysia seperti sudah tak bisa dinasehati dengan cara berunding.

Pukul sedikit perlu untuk mengingatkan bahwa apa yang dilakukannya itu keliru. Kalau dibiarkan begitu saja, Malaysia malah akan semakin ngelunjak dan menjadi besar kepala. Soal memukul lawan, memang harus dikaji dulu kemampuan memukul kita. Secara matematika, perlu diperhitungkan kecanggihan pemukul yang dimiliki dan kemampuan orang yang menggunakannya.

Belakangan, kita memang sedikit bermasalah dengan alat-alat tempur yang dimiliki. Tak perang pun, Hercules rontok dan menewaskan banyak prajurit handal. Tak bisa dibayangkan tentang buruknya persenjataan kita. Mungkin ini menjadi pemikiran petinggi bangsa ini untuk memukul lawan–mau dipukul pake apa!?

Zaman perjuangan dulu, kita memang berhasil mengusir penjajah dengan bambu runcing. Saat Sekolah Dasar, aku bangga banget dengan sejarah bangsa yang mampu merebut kemerdekaan hanya bersenjatankan bambu runcing!!! Saking bangganya, kemana-mana sering bawa bambu, hehehe..Tapi sekarang beda coy, sekali bom aja Jepang takluk dalam Perang Dunia II.

Tapi, bagaimanapun, Indonesia memiliki segala hal yang berbeda dengan Malaysia. Dilihat dari segi apa pun, kita selalu unggul. Meskipun Negeri Jiran ini memiliki senjata pertahanan yang kuat, mereka tidak akan menang lawan Indonesia. Tapi, ini bukan soal perang!!! Perang sudah gak macho untuk saat ini.

Sekarang, yang terpenting pemimpin bangsa kita mesti mampu berbicara besar sebagai bangsa yang besar. Bagaimana bangsa ini besar jika orang-orangnya tidak menyadari bahwa kita ini besar. Bicara ama negara laen sering nunduk, makanya orang semaunya ama kita.

Selama ini, tambal sulam hubungan Indoenesia dan Malaysia tidak memberikan hasil apa-apa. Kita malah rugi dan mereka seperti tak mau berhenti mengganggu kedaulatan RI. Malaysia emang mulai nakal. Sebagai negara serumpun, kita prihatin kenapa tabiat saudara kita ini makin buruk.

Saat ini, jalur diplomasi memang harus dilakukan untuk memperbaki ketegangan antara dua negara. Diharapkan diplomat kita yang ke sana sama lah kalibernya dengan Agus Salim. Kalau diplomatnya cemen, ntar malah tidak menghasilkan apa-apa dan merendahkan martabat bangsa.

Kayaknya kondisi ini mesti cepat diatasi untuk menghindari kemarahan masyarakat bangsa ini. Di sana-sini kita menemukan aksi menentang Malaysia terus meluas. Kalau dibiarkan berlarut-larut, ini tidak baik bagi kehubungan kedua keluarga serumpun.

Jika tidak bisa diselesaikan secara baik-baik, perangi saja. Tapi saya yakin, bangsa ini memiliki kearifan dan kedewasaan untuk memilih lawan. Malaysia saya rasa bukan lawan sepadan buat Indonesia karena lebih kepada adik kandung nan serumpun. Adik-kakak berkelahi, orang lain akan ambil untung. Yang perlu diwaspadai kedua negara saat ini, siapa kira-kira yang beruntung dengan memburuknya hubungan RI-Malaysia? (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s