Gempa 7,9 SR Guncang Sumbar: Menit-Menit Yang Menegangkan

Siang itu, Rabu, 30 September 2009. Gerakan Cinta Indonesia Cinta KPK (Cicak) Padang berdemo di depan kantor Polisi Daerah Sumatera Barat di jalan Sudirman, Padang.

Aksi ini sempat memacetkan lalu lintas di jalan protokol. Setelah menggelar demo sekitar satu jam, mereka mulai membubarkan diri. Jalanan kembali normal. Sejumlah siswa berseragam sekolah terlihat ramai memenuhi halte pemberhentian angkutan kota.

Matahari terus bergerak ke barat. Menjelang sore, jual-beli bahan mentah di Pasar Raya Padang mulai menunjukkan aktivitas menurun. Hal ini berbanding terbalik dengan sejumlah mall-mall di Kota Padang. Sebelum detik-detik yang mendebarkan terjadi, langit di Kota Padang terlihat tenang dengan awan tipis yang menyerupai garis-garis dengan bentuk memanjang.

Tenang dan terasa diam. Hiruk pikuk kota terasa hening di tengah kesibukan warga yang mulai beranjak pulang setelah seharian menjalankan aktivitas. Mobil yang dikendarai meluncur pelan menuju kawasan Pelabuhan Muaro, Padang, dengan kecepatan sekitar 30 kilometer per jam. Rencananya mau ke toko roti France yang berada di jalan Batang Arau.  Saat itu, jam di tangan menunjukkan sekitar pukul 17:16 WIB.

Saat melintasi deretan pertokoan di kawasan Padang Kota Tua ini, bunyi kaca berderik terdengan samar.  “Kretak, kretak,” kaca-kaca toko itu terus menimbulkan bunyi keras dan bergetar. Para penghuninya berhamburan ke luar dan melihat ke arah atas.

Setelah berada di luar toko, mereka terlihat terdiam dan menyaksikan kondisi gedung mereka. Di dalam mobil, saya dan teman–sekarang menjadi istri tercinta–tidak merasakan dan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Sejumlah pertanyaan muncul: “Apa yang terjadi?” Saya sempat berpikir, munkin ada manuver pesawat komersil yang melayang agak rendah sehingga memancing rasa ingin tahu penghuni toko. Waktu berlalu begitu cepat, dalam hitungan detik, sekitar pukul 17:18 WIB,  jalan yang dilewati mulai berguncang hebat.  Kuat sekali terasa guncangannya.

Saat itu baru disadari bahwa gempa telah mengguncang Padang. Pedal gas terasa sulit diinjak karena hentakan alam saat itu terasa dari segala arah dan seperti akan membalikkan kendaraan. Teriakan-teriakan histeris dan bunyi gaduh dari gedung-gedung rubuh bercampur aduk mewarnai telinga.

Gaduh sekali. Sampai-sampai saya tidak bisa membedakan suara yang muncul dari benda jatuh dengan seketika. Truk colt iesel 125 yang berada di bahu jalan terlihat terombang-ambing seperti akan menimpa mobil yang saya kendarai. Sesaat saya terdiam.

Teriakan teman perempuan saya mengingtakan akan kondisi yang terjadi saat itu. “Cepat, cepat, jangan diam saja, gempa Ri,” katanya histeris. Teman saya ini sebelum pindah ke Padang, sempat bertugas di Aceh beberapa tahun. Dia selamat saat gempa dan tsunami menghantam Aceh, Minggu, 26 Desember 2004. Trauma akan tsunami belum sepenuhnya hilang dari ingatan.

Berusaha untuk terus berjalan dalam kondisi panik dan gak sempat berpikir logis,  saya masih sibuk lirik kiri kanan, maklum naluri jurnalis saya masih belum hilang. Jalan aspal beton yang sebelumnya begitu kokoh patah di sejumlah titik yang dilewati. Aspal yang patah memuncratkan air berwarna kehitaman dan menyebabkan kegaduhan semakin tak terkendali.

Air yang keluar dari perut bumi ini kian membesar dan membanjiri jalan di sepanjang Pelabuhan Muaro,  Padang. Refleks, mata mengarah ke sungai Batang Arau yang berada tepat di sebelah kanan jalan. Gedung Dinas Prasarana Jalan dan Pemukiman Sumbar di depan Pelabuhan Muaro Padang mulai condong dan sebagiannya rubuh. Air terus menyembur dari patahan-patahan jalan dan menimbulkan genangan air di mana-mana.

“Air naik, air naik,” teriakan histeris ini seperti sahut menyahut mengabarkan pada siapa saja yang ada. Kata-kata ini menambah kepanikan dari semua orang yang saat itu keliatan masih terkesima dengan gempa besar yang mengguncang. Jalan menuju Klenteng See Hin Kiong di kawasan Pondok tertutup kabut merah sehingga tidak bisa dilewati.

Kabut merah ini muncul dari reruntuhan dari bangunan tua peninggalan Belanda yang rubuh akibat guncangan gempa. Situasi semakin mencekam. Dalam hitungan menit, jalan mulai terasa padat dan hanya menyisakan sedikit senggang yang bisa dilewati sepeda atau pejalan kaki. Kepanikan juga menjalar ke dalam mobil.

Jembatan Siti Nurbaya yang membentang kokoh pasca gempa mulai dijejali warga. Seorang ibu yang menggendong anaknya dengan kain panjang, berlari menerobos kerumunan mobil dan berjalan menuju jembatan Siti Nurbaya.

Lima menit pasca gempa, kemacetan hebat mulai mewarnai jalan di kawasan Pondok. Kendaraan semakin  menumpuk. Berhitung dengan waktu, mobil mulai merangkak di tengah kegaduhan klakson mobil dan dentuman benda-benda jatuh.

Dahsyatnya gempa saat itu membuat sejumlah pohon bertumbangan. Kondisi ini juga yang mengakibatkan kemacetan di kawasan Pondok tak terhindarkan. Selang beberapa menit pasca gempa, api besar mulai membumbung ke udara.

Api mengamuk di mana-mana di kawasan Pondok. Menurut data yang dilansir Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Sumbar, 27 kebakaran terjadi beberapa menit setelah gempa mengguncang.

Kepanikan terus berlangsung hingga menjelang senja. Kemacetan terjadi di mana-mana dan menyulut sejumlah pertengkaran mulut di beberapa titik. Saling ngotot ingin mencapai dataran tinggi mempersulit proses evakuasi.

Hasilnya, satu jam perjalanan dengan mobil hanya mampu menjangkau jarak sekitar 5 kilo meter. Saya pun meminta teman perempuan saya berjalan kaki menjelang RS Reksodiwiryo (RS Tentara) di Tarandam. Mobil terpaksa ditinggaldi trotoar dekat Masjid Raya Ganting, karena sudah tidak bisa bergerak. Saat itu sekitar pukul 18.30 WIB.

Setelah sempat beristirahat sebentar di Sekretariat Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Padang di Simpang Haru, saya pulang dan menjemput mobil yang ditinggal di jalan sekitar pukul 21.30 WIB. Jika tsunami terjadi, sulit bagi warga kota untuk melarikan diri karena jarak kota dengan bibir pantai hanya beberapa jengkal.

Sedangkan dataran tinggi di Kota Padang berjarak sekitar 15 kilo meter dari pusat kota. Kondisi ini semakin buruk karena banyaknya orang yang menyelamatkan diri menggunakan mobil.

Menjelang tengah malam, jalan-jalan kota mulai sepi. Kegelapan terjadi di mana-mana karena listrik padam pasca gempa. Tempat pengisian Bahan Bakar Minyak tutup. Jaringan telepon selular terputus. Padang terasa seperti kota mati.

Di jalan Sawahan hingga Simpang Haru, terlihat gedung-gedung berlantai tiga rontok dan hanya menyisakan satu lantai. Masjid Muhammadiayah yang berada di depan Pasar Simpang Haru rontok tinggal satu lantai.

Di Suzuki Finance Sawahan, sejumlah karyawan sibuk menyelamatkan rekan-rekanya yang tertimbun gedung runtuh. Di sejumlah tempat bimbingan belajar, para siswa terjebak reruntuhan gedung.

Saat gelap terus mencekam, mobil ambulance meraung-raung memecah kesunyian malam. Suara ambulance seperti tak pernah selesai meraung mengabarkan kondisi kritis.

Malam itu, sejumlah korban yang selamat dari reruntuhan gedung berhasil dievakuasi di tempat bimbingan belajar Quantum. Mia Reni Vixach (22 tahun) berhasil keluar dari reruntuhan gedung Quantum yang roboh.

Ia bersama tiga rekannya berhasil diselamatkan warga malam itu sekitar pukul 22.05 WIB. Keesokan harinya, kantong mayat mulai membanjiri halaman Rumah Sakit M Djamil, Padang. Saat itu, baru sekitar 30 jenazah korban gempa yang meninggal berada di sana. Tangisan, teriakan histeris muncul dari keluarga yang saat itu datang menjemput jenazah.

Satu bulan pasca gempa, pemerintah merilis, korban jiowa akibat tertimbun runtuhan gedung mencapai 1.117 orang. Ribuan bangunan warga dan pemerintah hancur akibat gempa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 21 Triliun. (Eri Naldi)

4 thoughts on “Gempa 7,9 SR Guncang Sumbar: Menit-Menit Yang Menegangkan

  1. Thank you so significantly for this! I havent been this thrilled by a blog for a Lengthy time! Youve got it, whatever that means in blogging. HaHa. Youre definitely a person that has something to say that folks have to hear. Keep up the great function. Maintain on inspiring the people!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s