Saat Petani Mengidolakan Pertanian Organik

Defisit pangan membuat pemerintah mengimpor beras dari sejumlah negara tetangga dalam kurun waktu empat tahun belakangan. Sukses swasembada beras di era 80-an, kini Indonesia menggantungkan sumber pangan pada produksi beras dari Vietnam dan Thailand.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 menunjukkan, impor beras Indonesia dari sejumlah negara mencapai 2,75 juta ton dengan nilai US$1,5 miliar. Vietnam menjadi negara eksportir terbesar bagi pasokan beras di Tanah Air dengan jumlah mencapai 1,78 juta ton.

Tak ingin mengulangi kegagalan di sektor pangan pada 2011, pemerintah membuat kebijakan optimistis dengan menghentikan impor beras pada 2014. Kebijakan ini, menurut pemerhati masalah pertanian, akan berujung manis jika pemerintah membangun regulasi yang berpihak pada petani.

“Ini kebijakan politik yang kami tunggu keseriusannya jika tidak ingin hanya menjadi slogan,” kata pemerhati masalah pertanian dari Farmers Initiatives For Ecological Livelihoods and Democracy (FIELD) Indonesia, Nugroho Wienarto, kepada VIVAnews, Rabu, 20 Juni 2012.

Menurut Nugroho, swasembada bisa dicapai dengan meningkatkan produksi beras atau mengurangi tingkat konsumsi beras nasional. Dua kebijakan ini bukan perkara mudah, mengingat alih fungsi sawah yang tinggi dan konsumsi beras per kapita yang terus melonjak dari tahun ke tahun.

Dari sisi produksi, penasihat senior FIELD ini menyentil keuletan pemerintah untuk mendongkrak lonjakan produksi beras yang bertumpu pada pupuk kimia. Pengendalian hama dengan mengandalkan pestisida dinilainya sebagai kebijakan keliru yang memperburuk hasil padi petani.

“Pemerintah jangan ngotot, penggunaan pestisida secara besar-besaran sejak 2009 hingga 2011 gagal total, serangan hama justru meledak,” kata Nugroho.

Tak kurang dari 150 ribu hektare sawah di Jawa diserang hama wereng sejak 2008 hingga 2011.

Penggunaan pestisida dinilainya hanya sebagai konsep menghambur-hamburkan keuangan negara. Kembali ke alam dan pengendalian hama secara biologis, menurut dia, menjadi langkah tepat untuk mengembalikan surplus beras nasional seperti era 80-an.

Pertanian organik

Pertanian organik digadang-gadang mampu menjawab tantangan masalah pertanian nasional saat ini. Sumatera Barat dianggap sebagai pionir dalam memainkan peran pertanian organik di tingkat nasional. Seberapa besar harapan petani di Sumbar akan konsep organik?

Sejak Senin hingga hari ini, sekitar 1.500 petani dari 17 kecamatan di Padang Pariaman, Sumbar, menggelar jambore tani. Mereka berbagi data dan informasi terkait pengelolaan lahan pertanian yang selaras dengan alam.

Ketua Persatuan Petani Pemandu Masyarakat Tangguh Bencana dan Perubahan Iklim, Padangpariaman, Indra Medi, mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk mengampanyekan pengurangan pupuk kimia di lahan pertanian. “Konsep ini telah kami tularkan setelah merasakan sendiri hasilnya,” ujar Indra Medi, di sela jambore tani.

Meskipun belum semua petani di 17 kecamatan tersebut sadar akan manfaat pupuk organik, persatuan petani ini telah membangun kesadaran tersebut pada 1.500 anggotanya. Secara ilmiah, Indra memaparkan, penggunaan pestisida secara berlebihan justu membunuh predator hama yang berkembang di lahan mereka.

“Pestisida itu ikut membunuh predator alami yang ada di lahan, sehingga populasi wereng akan meledak,” kata Indra.

Menurut dia, konsep pertanian modern tidak bisa sebatas penggunaan pupuk kimia yang mengakibatkan pendangkalan sawah, namun harus mengembangkan konsep berkelanjutan.

“Kami sudah pakai banyak racun, tapi gagal dan membuat resistance hama itu sendiri,” katanya.

Saat ini, pupuk kompos menjadi primadona di kalangan kelompok tani tersebut. Memanfaatkan kotoran sapi, mereka bisa mengolahnya menjadi bio gas dan ampas kotorannya diolah menjadi kompos.

Arif Lukman Hakim, peneliti FIELD yang mendalami kondisi lahan pertanian mengakui penggunaan pupuk kimia sebagai solusi yang tak berkelanjutan. “Kebijakan pertanian (melalui penggunaan pupuk) diambil gampangya saja, padahal kondisi tanah di sejumlah daerah berbeda,” kata Arif.

Penggunaan pestisida dinilai akan mengurangi unsur organik tanah dan membunuh mikro organisme yang ada. “Pestisida membunuh bakteri penyubur yang ada di tanah,” ujarnya.

Surplus beras

Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Sumbar, Joni, mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia di sektor pertanian. “Selama tujuh tahun terakhir, alokasi pupuk untuk Sumbar tidak pernah bertambah,” kata Joni.

Dengan asumsi pertumbuhan lahan minimal 500 hektare per tahun, penggunaan pupuk kimia di lahan pertanian terbilang menurun dari tahun ke tahun. Tahun ini, Sumbar menargetkan membuka lahan pertanian baru yang mencapai 2.000 hektare.

Sumbar juga tercatat sebagai daerah surplus beras sebanyak 600 ribu ton. Surplus beras ini diperoleh dari 434 ribu hektare lahan yang berproduksi. Pemerintah daerah pun telah mengalokasikan anggaran untuk produk organik yang dihasilkan petani dengan pemberian insentif Rp250 per kilogram untuk setiap produk. (Eri Naldi)

Catatan: tulisan ini telah dimuat sebelumnya di media online vivanews.com, tempat saya bekerja.

2 thoughts on “Saat Petani Mengidolakan Pertanian Organik

  1. Bisnis pertanian modern saat ini termasuk usaha kehutanan semakin tergantung pada pemakaian pupuk. Hal tersebut sejalan dengan adanya peningkatan produksi pertanian melalui penggunaan varietas unggul yang membutuhkan pupuk lebih banyak. Produksi pertanian yang tinggi tidak dapat diperoleh tanpa penggunaan pupuk, yang merupakan sistem pertanian intensif. Semakin tingginya kebutuhan pupuk yang diiringi kenaikan harga eceran tertinggi pupuk kimia, menjadikan peluang pupuk organik sebagai pilihan pupuk alternatif. Peluang usaha pupuk organik adalah sebuah bisnis yang menjanjikan, karena permintaannya semakin meningkat seiring dengan trend pertanian organik yang makin diminati oleh masyarakat.

    • konsep organik diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. mereka bertani dengan bibit sendiri, pupuknya tersedia di lahan pertanian mereka. untuk menjadikan pupuk organik sebagai salah satu industri, saya berharap, petani itu sendiri yang nantinya mengolah ini. biarkan mereka mengembangkan industri dan kita mendukungnya secara wajar sehingga konsep kemandirian petani bisa tercapai:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s